Oleh ; Muladi Mughni
Hari selasa, 21 Juli 2009, delapan orang perwakilan mahasiswa menghadap Dubes Indonesia untuk Pakistan di KBRI guna membicarakan hal Temus. Pertemuan yang rencananya dijadualkan pada pukul 15.00 terpaksa molor sampai dengan 15. 45, dikarenakan pada jam yang sama Dubes tengah menerima tamu para dubes ASEAN di Wisma Duta.
Pertemuan yang juga dihadiri oleh konsuler Bapak Adik Prayitno dilaksanakan di ruang pertemuan yang juga lazim digunakan untuk ruang rapat staff KBRI.
Sebelum rapat dimulai, para perwakilan mahasiswa terlebih dahulu melakukan koordinasi menyamakan persepsi mengenai topik yang akan disampaikan pada saat audiensi dengan dubes. Guest House yang saat ini menjadi kantor PPLN, menjadi pilihan perwakilan mahasiswa dalam penyatuan perspsi atas masalah yang ada. Panasnya cuaca hari itu yang diperkirakan mencapai 40 C, tidak menyurutkan langkah para perwakilan mahasiswa untuk sampai lebih awal sejam dari jam yang telah dijadualkan. Sekalipun letak posisi masing-masing mereka tidak sama, beberapa diantaranya berangkat dari new campus, lainnya dari arah Abpara, ada yang menggunakan taxi, motor, dan lainnya menggunakan kendaraan umum. Sekalipun hanya mereka yang mengendarai motorlah yang dapat masuk langsung ke area diplomatic enclave, sementara yang lainnya, harus berhenti di depan hotel Serena dan harus berjalan kaki sekitar 15 menit untuk sampai ke area Diplomic Enclave.
Begitu sampai di Guest House, sangat tampak muka-muka lusuh dan keringat yang bercucuran membanjiri sekujur tubuh mereka. “Wuah….puanas Rek” ucap Mas Edy yang wajahnya mirip vokalis Hijau Daun begitu sampai ruang guest house yang memang sejuk karena AC Windows diruang tengah telah terlebih dahulu dinyalakan. Tiba-tiba Su’ud pun datang sambil berkata, “Maknyosss panase…”, tapi walaupun panas seperti itu, tetap saja, yang pertama yang dimintanya kepada Munif adalah rokok favoritnya “Pine”, dimana Munif memang selalu sedia Rokok di kantongnya, langsung saja ia menyodorkan rokok tersebut ke Su’ud. Tapi sayang memang tidak ada kopi ataupun teh (dhot Pe tea) untuk bisa menambah kenikmatan Su’ud dan Munif.
Waktu audiensi diperkirakan masih setengah jam lagi, kami pun mengadakan rapat singkat, yang dimulai dengan pembicaraan Ihsanuddin tentang flashback hasil keputusan rapat dengan semua mahasiswa di balkon hostel empat. Ada tiga hal penting yang dipersiapkan dalam menyampaikan aspirasi mahasiswa tentang temus ini, yang pertama: memperkenalkan apa itu temus, berikut manfaat dari temus bagi mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan, kedua: apresisasi yang tinggi terhadap usaha yang telah dilakukan KBRI dalam menghubungi beberapa pihak terkait, sehingga sampai diterimanya keterangan resmi dari Konjen di Jeddah tentang alasan dihapuskannya temus dari Pakistan, seraya memohon petunjuk dubes untuk mengupayakan terobosan yang lain guna mengupayakan kembali jatah temus tersebut. Ketiga: mengkaji kemungkinan alasan dihapuskannya jatah temus Pakistan terkait dengan tindakan amoral seorang temus asal Karachi pada tahun lalu.
Tiga hal inilah yang disepakati akan disampaikan oleh perwakilan mahasiswa, berikut menyepakati siapa saja yang akan membuka pembicaraan dengan dubes berikut tanggapan-tanggapan yang selanjutnya. Intinya mereka berusaha untuk menciptakan dialog yang cair dan tidak formil, ibarat anak yang tengah menghadap Bapaknya.
Setelah merasa cukup berkonsolidasi, mereka menuju secara bersama-sama ke ruang tunggu yang terletak di samping resepsionis. Seperti biasanya, mereka berbasa-basi terlebih dahulu dengan Mba Lia, yang selalu tampil dengan senyumnya yang has. Ruang tunggu pun jadi penuh gelak tawa, karena memang tertawanya Mba Lia sulit untuk diposisikan, mereka pun juga kelihatannya akrab sekali dengan Mba Lia, khususnya Evi Hanafiah dan Ihsan, yang sedari awal selalu berdiri di depan meja resepsionis, tentu bisa dibayangkan, Ihsan dengan senyumnya yang has, dan Evi hanafiah dengan intonasi komunikasinya yang sangat halus. Tidak diketahui apa yang mereka bicarakan, tiba-tiba yang terdengar adalah gelak tawanya saja yang memecahkan keheningan.
Biasa memang, ada banyak cara yang dilakukan untuk menghilangkan sedikit grogi untuk menyampaikan aspirasi ke Dubes ketika itu. Lain halnya dengan Munif, Edy dan Muladi, karena menunggu hampir 30 menit, waktu yang lumayan lama itu, digunakan untuk berpoto-poto ria di ruang tunggu. Kamera bermerk Kodak yang Munif beli di Saudi hasil temus tahun lalu memang cukup bermanfaat untuk bisa mengisi kekosongan waku itu. Juru potret handal Lando alias Su’ud, selalu mengambil pose-pose yang unik dari berbagai gaya mereka. Ada yang berdiri di samping patung garuda, di belakang wayang, untung tidak ada yang mengambil pose di belakang patung setengah telanjang yang terbuat dari kayu.
Ketika kami tengah sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba muncul dari awah pintu masuk, mobil bernomor polisi CD 28. 01, yang dikendarai Dubes. Nampaknya pertemuan dengan para Dubes ASEAN telah selesai. Begitu beliau memasuki ruangan, dan kami sudah berada di sana, dubes meminta kami untuk menunggu sejenak. Tepat pada pukul 15.35, kami diminta masuk oleh Bapak Adik Prayitno ke ruangan rapat dubes. Setelah menunggu selama lima menit dan masing-masing kami telah mengambil posisi duduk Bapak dubes memasuki ruangan.
Pertama-tama Dubes memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam, dan nampaknya beliau sudah memahami betul inti permasalahan yang akan disampaikan oleh perwakilan mahasiswa itu. Persoalan penghapusan jatah temus langsung menjadi topik utama Dubes dan tanpa diduga Dubes pun secara langsung akan menggunakan otoritasnya selaku Dubes untuk membicarakan persoalan mahasiswa Pakistan ini kepada Menteri Agama dalam kesempatan pulangnya ke tanah air yang direncanakan sebelum 17-an agustus ini.
Pembukaan kalimat Dubes yang hanya berkisar lima menit itu, tenyata sudah memberikan jawaban dari sekian persoalan dan isi hati yang akan disampaikan oleh perwakilan mahasiswa, sehingga dalam benak masing-masing mereka sesungguhnya sudah tidak ada lagi yang harus disampaikan, karena memang yang menjadi harapan dan aspirasi mahasiswa selama ini adalah, permohonan kepada Bapak Dubes untuk bersedia melakukan pembicaraan dengan pihak Depag (Menag atau Dirjen Haji) untuk mengupayakan kembalinya jatah Temus bagi mahasiswa Pakistan.
Namun, sekalipun demikian, Dubes tetap memberikan kesempatan bagi perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan. Ihsan kemudian menyampaikan ucapan terimakasih atas upaya KBRI selama ini dalam mengupayakan kembalinya jatah Temus bagi mahasiswa Pakistan, sehingga sampai diterima untuk dapat beraudiensi dengan Dubes. Kemudian Muladi menyampaikan tentang temus berikut beberapa manfaatnya bagi mahasiswa, organisasi, dan kesempatan dapat berhaji di mana keduataan Saudi di Pakistan tidak memberikan kesempatan bagi mereka yang selain Temus. Penyataan ini pun di perkuat oleh beberapa rekan yang lainnya, seperti Munif, edy, Rizky, Adam dan lain-lain.
Mendengar ungkapan tersebut, respon yang diberikan Dubes begitu apresiatif dan positif. Beliau mengatakan bahwa memang tidak bisa diragukan lagi tentang faedah dan manfaat Temus bagi mahasiswa tersebut. Dan untuk itulah maka beliau merasa heran dengan penghapusan yang terjadi. Namun ada beberapa hal yang perlu dikaji oleh kita bersama, bahwa apa sebenarnya latar belakang penghapusan tersebut. Beliau menyebutkan dua hal, apakah karena porsi (jatah) petugas yang terlalu banyak, ataukah karena lokasi selain timur tengah yang jauh, sehingga ongkos (ganti transpot) juga otomatis menjadi lebih mahal.
Dua pertanyaan ini, langsung ditanggapi oleh Munif, bahwa persoalan porsi petugas itu tidak mejadi masalah, sebab setiap tahunnya memang selalu dibutuhkan petugas dari mahasiswa yang dari luar Arab Saudi termasuk yang dari Pakistan yang jumlahnya telah disesuaikan. Kemudian tentang ongkos transport, memang selama ini, ongkos transport tidak pernah dialokasikan oleh Depag, sehingga dekat ataupun jauh, timur tengah ataupun di luar timteng, tidak masalah, dan tidak mengurangi budjet alokasi dana kepada masing-masing temus perwakilan negara.
Mendengar keterangan tersebut, Dubes merasa tambah yakin untuk melangkah ke menag untuk menanyakan perihal penghapusan jatah tersebut. “So…kenapa harus ada diskriminasi antara timteng dan bukan”, Dubes mengatakan dengan ekspresi heran.
Terkait dengan penguasaan bahasa Arab yang diasumsikan menjadi sebab dihapusnya jatah Pakistan, juga Bapak Dubes telah lebih tahu, bahwa mayoritas mahasiswa disini mampu dan menguasai bahasa arab. Sebab materi kuliah di IIU menggunakan dua bahasa yaitu Arab dan Inggris. Bahkan Edy menambahkan, yang diutus menjadi Temus rata-rata mereka tengah S2 dan menulis thesis dalam Bahasa Arab, jadi mustahil ketidakmampuan berkomunikasi bahasa Arab dijadikan alasan.
Intinya semua hal yang menjadi aspirasi dan isi hati perwakilan mahasiswa dapat diterima oleh Dubes, dan semakin menguatkan keinginan beliau untuk menyampaikan keberatan bahkan protes atas penghapusan jatah Temus bagi mahasiswa Pakistan ini.
Namun, di sela-sela keinginan yang besar tersebut, apa yang menjadi prediksi kami, bahwa bisa saja Dubes mengkaitkan penghapusan ini dengan kejadian tahun lalu; dimana salah seorang Temus asal Karachi melakukan tindakan amoral; tertangkap menjual barang yang tidak etis saat bertugas, dan ketahuan oleh pihak TUH dan akhirnya dimutasi ke tempat tugas lainnya.
Di saat menerangkan hal tersebut Dubes tampak sangat marah dan tidak hanya menyalahkan orang yang melakukannya, tetapi juga kepada mereka yang bertugas, kenapa tidak melakukan pelarangan, dan bahkan beliau mencontohkan untuk tidak apa-apa sekiranya bagi yang tahu ketika orang tersebet berbuat amoral ia hajar dan larang dia sampai betul-betul ia sadar. Dan inilah sebetulnya Jihad anda yang betul menurut Dubes. Beliau begitu sangat menyayangkan kejadian tersebut, dan bukan tidak mustahil inilah yang mengakibatkan dihapuskannya jatah semua Temus Pakistan. Beliau pun menganalogikan dengan satu tentara yang bersalah, maka hukuman akan diterima oleh satu batalion. Sebab tanggung jawab harus dipikul oleh semua bukan perorangan.
Para perwakilan mahasiswa, menerima semua yang disampaikan Dubes dan sefaham dengan pernyataan Dubes tersebut. Dan bertekad untuk kemudian hari lebih meningkakan kesadaraan introspeksi dan saling muhasabah. Kejadian tahun lalu memang harus menggugah kesadaran kita yang mungkin melalaikan pungsi kontrol antar sesama kita.
Namun, sekalipun demikian sebagai opini banding, diakhir pembicaraan kami pun menyampaikan asumsi pelanggaran amoral tersebut dengan realita penghapusan temus. Bahwa wacana penghapusan Temus sebenarya sudah dinyatakan oleh kepala TUH Jeddah sebelum terjadinya pelanggaran oleh Temus asal Karachi tersebut, kemudian realitanya, temus asal Malaysia, India dan Iran yang tidak ada pelanggaran selama ini pun terkena penghapusan jatah seperti Pakistan. Artinya kami berusaha untuk meyakinkan Dubes bahwa penghapusan jatah ini semata-mata hanya karena alasan keinginan Depag untuk merekrut mahasiswa yang dari Timur Tengah dengan alasan efesiensi dan efektifitas kerja. Sebagaimana isi statemen yang dituangkan dalam surat dari Konjen Jeddah tertanggal 9 Juli 2009.
Akhirnya, audiensi pun harus berakhir pada pukul 16.20, dan kembali Bapak Dubes menegaskan akan ke Jakarta untuk bertemu dengan Menag untuk mengusahakan jatah temus bagi mahasiswa Pakistan. Dan beliau meminta kepada kami untuk membuat beberapa catatan yang perlu sebagai rujukan dalam menyampaikan aspirasi mahasiswa Pakistan tersebut.
Perwakilan mahasiswa yang hadir dalam pertemuan dengan Dubes adalah, Ihsanuddin, Adam Bachtiar, Muladi, Munif at-Tamimi, Su’ud Hasanuddin. Evi Hanafiah, Isrokh Fuaidy, dan Rizky Hegia Sampurna. Adapun Dubes didampingi oleh Bapak Adik Prayitno.
Demikian liputan hasil audiensi perwakilan mahasiswa dengan Dubes Bapak Ishak Latuconsina tentang pengembalian jatah temus Pakistan. Akhirnya Kita terus berusaha secara maksimal dan tidak pernah bosan untuk berdoa, tentunya dengan keyakinan penuh bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada Dzat yang Maha Mengetahui segala maslahat yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya bukan..?.